Sanghyang Raga Dewata
Sanghyang Raga Dewata berisi tentang nilai-nilai kosmologis dan tatanan hidup masyarakat Sunda Kuno. Naskah ini ditulis sekitar abad ke-16 M, di daerah Tasikmalaya.
Artefak
| # | Keterangan |
|---|---|
| Judul | Sanghyang Raga Dewata |
| Nomor | ? |
| Penulis | ? |
| Lokasi | Museum Negeri Jawa Barat Sri Baduga |
| Dimensi | 23,5 x 3,5 cm, 25 lempir |
Sanghyang Raga Dewata
Ini ucapan orang-orang yang tenggelam dalam ketidaksadaran. Tertutup oleh kealpaan, karena mereka (dalam keadaan) tidak sadar, terlangkahi tersembunyikan, oleh pangkal kenistaan pada badan. Terpengaruhi oleh cerita-cerita dunia, membayangi dalam diri. Suptapada namanya tidur, jagra namanya jaga. Itulah yang harus diingat bagi siapapun yang berucap, menjelang tidur suptapada namanya. Jika tidur maka putus, terkena oleh nista neraka,
terkena oleh noda// ucapan, (dan) nista neraka. Pangkal kelupaan pada diri sendiri, Penyebab lenyapnya segala ucapan yang sesungguhnya, hilang dalam keteguhan, tertutup oleh kelupaan, terikat oleh yang diucapkan, lupa pada jati diri sendiri. Janganlah hal itu diikuti! Suptapada artinya tidur, jagra artinya jaga. Hati-hatilah kepa da siapapun yang hendak bertapa, bertalian dengan aturan-aturan bertapa, (karena) tidak jauh dari diri kita juga, dosa itu dirasakan tidak enak (sehingga) mengganggu tidur. Yang mengetahui cerita,
tahu // tentang cerita alam gaib, tidak jaga tidak juga bangun. Tahu penyebab kelupaan, terkena oleh jeratan dosa. Lupa pada jati diri sendiri. Begitu kita tidur, itulah yang namanya suptapada. Pada artinya siang, supta artinya malam, gelap gulita. Tidak ingat kepada jati diri sendiri, tertutup oleh kelupaan, terkelilingi oleh lingkaran dosa. Adapun pada artinya,
Camkanlah Sang Hyang Carita! Hati-hatilah jangan sampai menutup mata! Apalagi tidur mendengkur, sampai-sampai tak ingat waktu, terpesona oleh cerita, terbawa oleh kekuatan. Itulah yang namanya noda kekuatan.
Hendaklah jangan terperdaya, oleh yang namanya noda, jika sama-sama lupa namanya, tertutup oleh kalimadra, mimpi dari sumber impian, hilanglah segala pengetahuan yang telah dimiliki. Jika bangun akan terasa pulih, yang akan terasa dalam Sang Hyang Ketetegan.
Adalah pengertian bayu yang kedua, yang menjelma siang (dan) malam, yang nampak di angkasa raya, itulah wujud kasar tentang bayu. Bayu yang halus berada pada diri sendiri. Bila hendak bertanya tentang halusnya bayu, keagungan tentang bayu, keunggulan tentang bayu, yaitu Sang Hyang Pangan, Sang Hyang Kasatyan. Sang Hyang Kapramanaan Bayu, artinya Sang Hyang Bayu Wisesa, Sanghyang Bayu Sihurip, Sang Hyang Bayu Sangkara, Sanghyang Bayu Sakrati yang bertapa sempurna.
Sanghyang Bayu Wahye di sebelah kiri, Bayu Byantara di sebelah kanan, Sanghyang Bayu Tiga J nyana di tengah. Sebabnya kesempurnaan dan kesaktian, ada pada Sang hyang Bayu Wisesa. Wahye dari sebelah kiri, Byantara dari sebelah kanan, (merupakan) gerbang kematian ber sama, perbatasan yang sangat menyesakkan. Sanghyang Pananyaan ada pada diri sendiri, yang membimbing Sang Hyang Carita, tempat meyakinkan Sang Hyang Pananyaan, hal itu sudah tersedia pada diri sendiri. Segala kebaikan yang diinginkan, bertanyalah kepada Sang Hyang Tiga Jnyana.
Baik kebohongan maupun kebenaran, sorga dan kesucian, bertanyalah kepada Sang Hyang Pattgan. Adalah pohon kayu roboh, kemanakah pangkalnya, ke hilir ujungnya, maka ujungnya ke hilir, ke hulu ujungnya yang lain. Kita boleh berbicara, tak boleh diam saja, tetapi jangan bersuara keras. Tidur dan berjalan, mandi dan bersuci, kemudian ke luar lalu tidur. Adalah sepotong kayu di jalan, direbahkan ditegakkan,
diberdirikan untuk dihalangkan, dipalangkan pada waktu kita perang, tatkala kekuatan kita (akan) kalah. Seperti nya semua bergerak, gajah singa macan beruang, kerbau sapi badak lasun. Jangan takut kalah oleh musuh! //0//
Kuasailah Sang Hyang Katetegan ini ! Baik dalam kematian maupun dalam kehidupan, kejahatan kebaikan kerenda han hati. Berperang itu tampaknya baik, tetapi hendak nya dijauhi, (karena) jelas keburukannya, hal itu tidak tersirat dalam Sang Hyang Huriphala. Inilah yang harus benar-benar diperhatikan dalam mendidik! //
Sebab terlihat ketika perang (akan) kalah. Ya jangan berani memegang pundak, nanti salah yang dipegang. Agaknya jika hujan terjadi angin, sama-sama salah.Angin menang, musuh kalah oleh kita. Mendapat kabar bahwa tak usah memilih-milih. Jangan harap dikisahkan kelak, karena setia maju berperang, Karena tidak bersungguh-sungguh, sebab berjalan sampai tiba, yang akan dibawakan berita, berita tentang kemenangan. Karena tidak memperoleh manfaat,
Sebab ada prtiwi, hilanglah yang harus dipertanggung-jawabkannya. Aku akan menciptakan angkasa, datang dan tampaklah angkasa, di jagat raya (yang) keluar dari (yang) tidak ada. Setelah itu gelaplah tertutupi oleh angkasa. Ah alangkah gelapnya! Aku akan menciptakan bulan, bintang matahari, pengisi angkasa. Setelah itu tampaklah ada bulan, bintang mata hari, keluar dari yang tidak ada. Bulan dari sebelah barat, //
matahari dari sebelah timur. Setelah itu datanglah siang te rang. Dari sana asal-mulanya tanah, dan adanya ang kasa. Dari sanalah asal-mulanya malam, dan adanya si ang. Katanya sejak itu benar-benar sudah ada, dunia dan jagat raya, ada tanah ada angkasa, ada siang ada malam, tetapi tidak ada bakal pengisinya. Aku akan menciptakan mahluk, (untuk) pengisi dunia. Setelah itu tampaklah ada mahluk di jagat raya, keluar dari (yang) tidak ada. //
Setelah itu sungguh masuklah roh. Dari situ asal-mulanya kehidupan, asalnya (roh) bertempat di dalam diri kita.
Katanya sungguh sangat baik, jika (roh) kita berada da- lam diri. Katanya sungguh sesuatu yang baik, jika roh kita berada dalam diri, terkena oleh suka dan duka, ter kena oleh kelahapan, terkena oleh kekenyangan, dan terkena oleh mati dan hidup. Jika telah lama hidup, aku akan kembali pergi,
diri sendiri//dari kehidupan dunia, menuju keabadian diri, dari kefanaan. Telah habis masanya, berada dalam kehidupan. Jiwa ditarik dari yang kanan, dikibaskan ke sebelah sela tan, tampaklah laut yang bergelombang. Ditarik dari yang kiri, dikibaskan ke kiri, tampaklah laut yang tenang. Setelah itu menetes air mataku, lalu tampaklah menjadi air sungai, yang mengalir ke laut. //
Setelah itu meludah ke air, menjadilah busa air. Dari sa nalah asal-muasal, adanya laut adanya air, yang sangat berguna setelah ada kehidupan. Dari sana sangat lama meninggalkan jasad, dari sana lalu matilah jasad di dunia, dibuang menyangkut di bumi. Dari sanalah asal-mulanya kita kena oleh kematian, yang didahului oleh kebenaran.Setelah itu akan dilihat jasad, oleh kejujurannya. Apakah jujur atau tidak,
karena // kemulyaannya. Jangan merasa benar sendiri, (karena) taruhannya diri kita (sendiri). Tampaklah terang lengang, seperti rumah lebah, kosong melompong, ba-gaikan pandangan hampa. Mata tidak boleh melihat,telinga tidak boleh mende- ngar, mulut tidak bisa bicara, badan tidak bisa bergerak. Jika bukan bagian sendiri,bukan hak untuk dilihatnya, bu kan untuk kemulyaannya, karena perkataannya benar. //
Tidak ada yang menjadikan aku, Tidak ada yang men ciptakan aku. Aku menamai diri sendiri,Sang Hyang Raga Dewata. Mengapa menamakan diri sendiri, sebagai Sang Hyang Raga Dewata Karena nama dewata juga. Setelah itu terdengarlah ucapan sesungguhnya, perkata an yang benar, bahwa dia adalah bayu sabda hdap. Kata nya dirinya berbeda, katanya dirinya sakti, karena diri nya dewata. Ucapannya senantiasa benar, itulah sebab nya sempurna, itulah sebabnya sakti, itulah sebabnya dewata.
Dengan bertapa untuk mengisi dunia. Dapat mencipta kan bumi di jagat raya, jika demikian matilah raga. Aku akan mengisinya, dengan bayu sabda hdap, hingga tampaklah nyata, bayu sabda hdap, ke luar dari ketidakadaan. Setelah raga bergerak, mata membuka lalu bangun,ingin melihat diri sendiri. Perkataanya berupa bayu sabda hdap, silakan datang dengan senang hati, aku ini demiki- anlah adanya. Katanya kamu sempurna, katanya kamu sakti. //
Sesungguhnya kesetiaan yang abadi. Bertahan jika kalah perang, lalu keluar kebaikan yang banyak. Asap kehidup an menutup dan menggenggam jari-jari. Kebiasaannya tidak kalah selesailah. Jika ada yang mendirikan rumah, sembelihlah anak ker bau, agar memperoleh keselamatan, agar anak lelaki yang lahir tidak menjadi korban. Kalau kita merasakan sakit, keluarlah banaspati dari angkasa, sesajinya udang bakar yang baik, ikan matang dan ayam mentah, berwarna merah kuning sesajinya. Keluarlah dari lokasi pintu banaspati, sesaji nya berwarna putih.
Sebabnya tidak ada Sang Hyang Bayu, karena menjadi tukang membangunkan. Wilayah jelajahnya, begitu luas dan padat. Janganlah mengingkari Sang Hyang Bayu, me ngingkari Sang Hyang Hurip, mengingkari Sang Hyang Si wa. Karena mereka itu Sang Hyang Kajayaan. Sang Hyang Jayasyewana, yang hidup di tempat Siwa. Demikianlah mengenai, Sang Hyang Kajayaan, yang me- melihara jagat raya.
karena kamu hasil ciptaan di jagat raya, termasuk segala kesuciannya, pada penderitaan di dunia, kesuciannya di surga, kesucian Batara Guru, di laut Batara Baruna, ke suciannya di dalam Saptapatala, kesucian Nusyalarang. Kini telah ada bakal negara, bakal pemimpin di dunia. Se telah itu terjadi, maka benar-benar pergi meninggalkan, //
maka semua dewata, ke tempat Batara Guru, kepada hasil ciptaan Sang Hyang Tunggal, bertempat di dalam surga, tempat Batara Guru, tempat Brahma Wisnu, Iswara dan Mahadewa. Benar-benar ucapannya Siwa, Kini sudah saatnya, bakal pemimpin, hasil ciptaan di dunia, ke bawah ke dalam Saptapatala, Batara Basuki Sang Nagaraja, ke laut Batara Baruna. Kini telah lengkap penguasanya. //
Karena dia yang menciptakanku, karena dia yang mem buatku. Setiap yang dia rasakan, dapat aku rasakan. Seti ap yang dia katakan, dapat aku katakan. Karena dia pen ciptaku. Tanya Raga Dewata: "Mengapa namanya begitu?" Kare na datang tanpa rupa tanpa raga, tidak terlihat. Katanya benar, rupa direka karena ada. Akulah yang menciptakan tetapi tak terciptakan, akulah yang bekerja tetapi tak dikerjakan, Akulah yang meng-gunakan tetapi tidak digunakan. //
Karena aku yang mati, karena aku yang mati, karena aku yang mustahil, karena aku yang tidak tertuduh, karena aku yang tanpa nama. Setelah itu badan ditundukkan, lalu mengambil tanah, terus dikepal tiga kepal, dibuka maka menjelma Sang Hyang Hantiga (telur). Setelah itu dimasukkanlah, bayu sabda hdap, ke dalam Sang Hyang Hantiga, menjelmalah Sang Hyang Tunggal. Dialah yang menggunakan, isi Sang Hyang Hantiga.
Nampaklah seperti bayu halus, lembut melesat ke atas, jadilah Batara Becet. Dia adalah Batara Guru, yang tinggal di Gunung Kahya-ngan, di tempat Sang Hyang Tunggal. Keluar air (dan) darah dari Sang Hyang Hantiga, teralirilah Sang Hyang Lemah, oleh air Sang Hyang Hantiga, itulah yang menye babkan adanya tanah liat. Setelah ada dunia di jagat raya, ada tanah ada langit, belum ada yang mengisinya.
Aku yang akan mengisinya, dengan bayu dingin dan bayu sempurna, ialah bayu rahasia, itulah yang namanya bayu abadi. Dia berguna bagi Sang Hyang Tunggal, dia disimpan di tempat yang gemerlapan, terang benderang seperti waktu siang. Dia katanya ada di sorga, di mana sorga itu, datang lalu berada di sorga, ke luar tatkala sakti, berguna di dalam Sang Hyang Hantiga, bercampur dengan kegunaan Sang Hyang Tunggal,oleh bayu sabda hdap. //
Sedangkan yang dimaksud hdap, keluar bersama dengan pernapasan. Berfikir dengki jangan cemburu, menggelo ra panas hati. Dia yang menciptakan, Kalasakti namanya. Jika sabda terlontarkan berkata langsung jadi. Janganlah memberi perlindungan kepada yang suka, sumpah serapah pema buk pembunuh. Jangan dikatakan kepada adik (dan) kakak, kepada keluarga dan saudara. Dia menciptakan Nalasakti, mencampuri ciptaan Sang Hyang Tunggal
Diperlihatkan neraka-neraka, batu (yang) tertutup, jem batan yang sempit. Dari sana adanya kenistaan, penye- bab adanya kesurgaan, penyebab ada yang menderita, karena ada yang masuk surga. Setelah digunakan, isi Sang Hyang Hantiga, oleh Sang Hyang Tunggal, dari situ katanya, setelah itu pecahlah (lalu) menetes. Setelah hantiga pecah, jadilah ikan, jadilah bebek jadilah itik. Tengah-tengah hantiga, menjelma Batara Siwa, me- nempati jagat raya dan diri sendiri. //
Berwujud macam-macam bentuk. Tidak dapat mengaku sempurna, tidak dapat mengaku sakti,tidak ada guna nya, tidak mencipta brata samadi, bukan surga bukan ba wah, bukan pertiwi bukan angkasa, bukan batara bukan pulau, bukan dewata, tidak panas tidak dingin, bukan batara bukan batari, bukan manusia bukan dewata, ti-dak panas tidak dingin, //
tidak suka tidak duka, tidak di bawah tidak di atas. Jika harus mati, sempurnalah dia. Dari sana telah lama pergi, lalu naik ke jatiniskala. Tidak berupa tidak berbentuk, tidak sengsara tidak bahagia. Karena terbebas dari kesucian, karena muncul lalu meng hilang tidak ada, keluar menghilang tanpa sebab, keluar menghilang tanpa perubahan, keluar menghilang tanpa kejadian, keluar menghilang tanpa bekas,
sama // saja artinya. Sebab perang (adalah) suci, sebab lenyap seperti sediakala, sebab Sang Manon keluar menghilang tanpa wujud, sebab Sang Manon keluar menghilang tanpa jasad, sebab Sang Manon keluar menghilang tanpa sebab, sebab Sang Manon keluar menghilang tanpa tempat tinggal. Oleh karena itu tidak tertebak keberadaan Sang Manon. Seandainya dapat terpahami Sang Hyang Minge, jangan lah melupakan Sang Manon tanpa sebab. Jika bersikap demikian,
Sang Manon bukan sesuatu yang bergerak, perilaku Sang Manon, pergi tidak tampak punggung, datang tidak kelihatan wajah. Seandainya ingin bertemu jasad, Sang Hyang Kala berja lan, asal artinya dunia, pata artinya ke benaran, hilang lenyap. Tidak ada terhalangi oleh kesu karan. Karena ke luar lalu menghilang, tidak ada dalam diri, karena lenyap seperti sediakala, hingga keluar lenyap dari dalam diri. Itulah sebabnya tidak tertunjuk oleh Sang Manon.
Adapun // hdap tidak mengakibatkan hdap. Sadar tidak mengakibatkan ...... (?), Kaluar pada kaluar hilang Lenyap seperti sediakala Seleseai sudah sang manon Yang dipuja terhidsari dari ..... (?) ................ pa matana (?). Terhindar dari yanh aka dididik sampai panggara (?) sampai
Ya ............. ya ........./Nbukankah gagak akhirnya ta ka (?) ingat tanpa berkata, tidak sirna dari diri sendiri, ba (?) ............... tanpa hdap, bayu tidak ada //
beraneka tetapi artinya satu, tidak boleh ditakuti. Besar tidak boleh dikurangi, kecil tidak boleh ditambah. Tidak boleh dilayani, sebab tugasnya melayani, karena kehidupan di dunia. Jauh dengan jagat raya, Sang Hyang Bayu, Sang Hyang Hurip Jati, Sang Hyang Sakti Bwana, Sang Ki lir Desa, Sang Bwana Sakti, yang dapat diandalkan, katanya hidup (di) dunia untuk kejayaan desa. Yang dapat diandalkan,
Ya sanghyang bayu, ya sanghyang mingt, pada saktinya. oleh hyang dan dewata, ialah Sang Hyang Bayu, yang kekal abadi. Kehidupan di utara, kehidupan di selatan, kehidupan di barat, kehidupan di timur, kehidupan di bawah di atas, kehidupan kita semua. Dapat mengambil kehidupan di dunia. Sanghyang Bayu Sakti, Sanghyang Bayu Wisesa. sama-sa ma sempurna Sang Hyang Bayu, sebab kekal dalam ucap an, tidak dapat dibentuk, sebab sempurna, sebab yang memelihara dan yang mengetahui. Itulah Sang Hyang Bayu, (dan) itulah Sang Hyang Minget, yang sama-sama sakti.
Ucapan ini tanpa kelupaan namanya, manfaat Sang Hyang Tutur namanya. Karinding kubang, gobong honghong, taleot bubu, li-tanghas semua itu berguna, Sang Hyang Bayu namanya. Janganlah dikuasai oleh ucapan, namanya mabayu. Janganlah ikut-ikutan, mereka sama-sama bangun, hen daklah ingat kepada nasihatnya, hati-hatilah pada diri sendiri, ingatlah kepada persembahan, persembahan ke pada Sang Manon, ingatlah akan sifat-sifat dunia.
Berjalanlah Sang Hyang Carita, //
Pembimbing kebenar an bagi seluruh manusia, tanpa kesukaran, terang tanpa disinari, ingat kepada perbuatan yang benar. Ya akhirnya yang disebut, kebenaran tanpa penghianat an, yang disebut tidak dituduh, sama-sama bertanya, semuanya utama, sama saja artinya. Jangan lah saling bersilat lidah, jangan berkata sambil ma rah. I I O // Inilah ajaran Sang Hyang Darma. Janganlah mengingin kan keunggulan, janganlah berangan-angan, janganlah menuduh Sang Hyang Katucuhan,
artinya janganlah bertapa terus menerus.
Adapun yang namanya malam, sama saja artinya deng an siang. Demikian pula dia, senantiasa ingat kepada Sang Hyang Carita, senantiasa ingat kepada cerita, Sang Hyang Minget pada bagian keempat, waktu di dunia, lalu tiba-tiba pergilah Sang Hyang Carita. Demikianlah tanpa kesulitan, tanpa hdap tanpa pende ngaran, adalah Sang Hyang Biheung, moksa sempurna yang menyebabkan keabadian nasihat, abadi dalam hdap. Inilah pangkal keteguhan, kejayaan di dunia, yaitu dalam kejayaan pemimpin,
tidak berubah // tidak bergerak.
Demikianlah Sang Pitutur, wujud halus Sang Manon, yai tu Sang Hyang Minget, ingat kepada perbuatan Sang Ma non, ingat kepada perbuatan bayu, ingat kepada pembe ri nasihat. Itulah sebagai kejayaan pemimpin, kejayaan di dunia, ya ingatlah akan perjalanan Sang Hyang Carita. Janganlah terpengaruh oleh nasihat, terpengaruh oleh hdap. Itulah penguat daerah, ialah Sang Hyang Carita, yaitu Sang Hyang Menget, yang memperingatkan kepa da kejayaan di dunia,
Sebab tanpa bekas bebas dari ketunggalan, ya tidak ya terbatas, ya terhindar dari ilmu pengetahuan, ya terhin dar dari perasaan, //0// suptapada artinya. Ini untuk sekali mati, untuk ... pulang ke asal dunia kini, untuk meninggalkan dunia,dan diri sendiri, untuk........... untuk melenyapkan tanpa direka. Keluar menghilang tanpa berulang,
keluar menghilang tanpa tempat tinggal. Oleh sebab itu ada yang disebut Sang Hyang Hanteu, tanpa bumi tanpa keragu-raguan, tanpa dunia tanpa semuanya itu, ........... artinya, dibuatnya sepi seperti sediakala, dari ketidak- beradaan seperti sediakala, berasal dari ketidaktentuan, datang tidak dari diri sendiri. Tidak di bawah tidak di atas, tidak ada sorga tanpa ... sari (?), tidak ada manusia tidak ada dewata, tidak ada panas tidak ada dingin.
Sebab nyawa //.......,.. Siwa Buda, asal-mula penjelmaan, berbagai binatang dan tumbuhan, sawa(?) ... yang hidup bergerak, binatang berupa kera. Asal-mula kematian, asal-mula kehidupan, asal-mula Sang Manon, asal-mula nasihat, asal-mula hdap, asal-mula sabda, asal-mula bayu, asal-mula terhinggapi nafsu birahi, Tatkala belum ada tempat tinggal, tidak (ada) yang menempati, pada saat tidak (ada) yang melihat, tidak ada yang terlihat. //
Pada waktu tidak (ada) yang menuduh, tidak ada yang tertuduh. Pada mulanya tanpa tempat tinggal. //O// Pa da saat berbicara bukan ........ bukan berbicara. Pada waktu berkata bukan perkataan, pada waktu semua ujaran berupa ilmu pengetahuan. Perkataannya benar, tanpa rupa tanpa tempat tiggal, bu kan untuk dilihatnya. Aku akan menciptakan bumi, .................. di dunia, tampaklah tanah yang mengkilap, penuh dengan permata. Perkataannya benar,
Ah // ............ Sang Hyang Tunggal, pancaran sinar Sang Hyang Tunggal, terang benderang kemerah-merahan, bersinar kemilau bagaikan senantiasa siang, ......... gunanya, Sang Hyang Hantiga, kuning Sang Hyang Hanti ga, menjadi Batara Mahadewa, hijau Sang Hyang Han tiga, menjadi Batara Wisnu, putih Sang Hyang Hantiga, menjadi Batara Isora, air dan darah Sang Hyang Hantiga, menjadi Batara Brahma. Hyang Mahadewa adalah hdap, Wisnu adalah bayu. isora (adalah) sabda
Brahma adalah da//..... Itulah tugas Sang Hyang Tunggal, yai tu tatkala berada dalam hdap yang bening, hening kekal abadi, perkataannya kebenaran yang sempurna. Itulah tugas Sang Hyang Tunggal, yaitu keabadian hdap namanya. Sabda itu adalah aturan berbahasa, guru bahasa .... dasa sila, kasop been tejeh (?), atong teuang (?) guru lagu, ber budi luhur... Itulah tugas Sang Hyang Tunggal Yaitu ke abadian sabda namanya, Itulah tugas Sang Hyang Tunggal. //
Sia-sia supaya ikut, Kegagalan untuk mencapai kelepas an, tidak menderita tanpa Sang Deha, tidak tertarik tan pa ilmu pengetahuan, selesai seperti sediakala, selalu kekal abadi, tidak berubah tidak bergerak, Sang Hyang Hdap benar sekali. /
Selesailah tulisan pujangga ini.